“Saya itu pendiam, jarang berbicara dan lebih suka mendengarkan.”
Hmb… saya ingin mengklarifikasi bahwa saya bukan tipe orang yang pendiam. Maksud saya, saya bisa berbicara lebih banyak daripada yang pernah dibayangkan orang sebelumnya ketika topik tersebut adalah topik yang saya suka, menarik perhatian saya (pastinya), pernah terjadi pada hidup saya atau berkaitan dengan cerita hidup saya dan kadang mungkin untuk basa basi karena selamanya berkutat dalam diam adalah hal yang melelahkan jiwa.
Mengapa saya katakan hal yang melelahkan jiwa? Terkadang saya hanya ingin berbicara dengan seseorang yang membuat saya nyaman berbicara (bahkan saya masih punya kriteria soal ini hahaha), seseorang yang dekat dengan saya, mengetahui banyak hal tentang hidup saya dan saya seringkali menghindari orang yang baru saya kenal, bukan karena saya takut dengan orangnya, tapi saya merasa saya belum mengenal orang tersebut (siapa dia, bagaimana latar belakang kehidupannya, apa yang dia suka de-el-el) dan belum tahu dimana letak sensitivitasnya.
Setiap orang memiliki sensitivitas yang berbeda lho dan ketika saya masuk di dalamnya tanpa mengenal terlebih dahulu orang tersebut, terlebih ketika bercanda dan candaan itu ternyata adalah hal yang mengganggu si pendengar yang notabene orang baru, saya atau siapapun pasti dianggap sok tahu, sok akrab, tidak tahu diri dan sebagainya. Sudah pasti, ketika kemudian saya berbicara kembali dengan orang yang baru saya kenal tersebut, saya akan dihindari. Ya, saya harus mengakui bahwa itu adalah kecemasan saya terhadap situasi dan bukan pada orangnya. Saya rasa inilah ketakutan saya yang kadang sulit dimengerti, tapi tak apalah karena setiap orang punya argumentasi. Zaman demokrasi coy. Inilah mengapa banyak orang berpikir bahwa saya anti-sosial. Poin kedua adalah ketika saya memilih diam dan tidak berbicara sama sekali dengan orang baru, tentu bukan hal yang baik bagi saya pribadi maupun bagi orang tersebut. Hal inilah yang perlu dipahami sebagian besar orang introvert seperti saya. Kata orang tidak kenal maka tidak sayang.
Dan…, ya… ada banyak sekali kesempatan untuk menilai bahwa orang lain yang kita lihat dari kacamata kita bukanlah dia yang sebenar-benarnya. Maksud saya, pikiran negatif lebih banyak hadir ketika seseorang baru atau belum mengenal orang lain dan ketika mengenal orang tersebut, timbulah penyesalan. Ternyata oh ternyata… banyak sekali kebaikan yang telah dilakukan orang tersebut. Saya memaklumi hal ini karena siapapun pernah mengalaminya. Ya, saya adalah manusia, kamu adalah manusia, dia adalah manusia, dan kita, terlepas dari apapun yang mengikat kita, kita tetaplah manusia. So, don’t judge a book by its cover, mata bisa menipu tetapi kebenaran tetaplah kebenaran. Fakta yang tidak banyak orang sadari adalah saya bisa menghabiskan 5 jam untuk berbicara dan mampu bertahan hanya untuk sekedar mendengarkan seseorang berbicara selama 3 jam. Jika dan hanya jika seperti yang saya utarakan di atas.
Dan, saya sejatinya bukan orang yang suka mendengarkan karena terkadang bahkan seringkali saya adalah pribadi yang suka berdebat dan ingin menang sendiri (Egois) dalam beberapa kesempatan. Parahnya, saya sulit menerima pendapat orang lain. Mungkin diam dan mendengarkan orang lain akan saya lakukan ketika saya merasa terlalu banyak berbicara, atau saya sadar sebaiknya lebih banyak mendengarkan daripada memotong pembicaraan (memotong pembicaraan adalah hal yang menyakitkan), atau saya sadar bahwa hal yang saya dengar bermanfaat bagi saya, atau bisa terjadi ketika saya merasa bersalah, dan terkadang sebetulnya saya perlu diam bukan karena saya anti sosial tapi saya hanya merasa saya butuh diam untuk mengetahui apa yang perlu saya bicarakan. Perlu diketahui bahwa mendengarkan sebelum berbicara lebih baik karena hanya dengan demikian saya bisa menjadi teman yang baik bagi sahabat saya.
Pertanyaannya, mengapa kemudian saya mengatakan teman yang baik bagi sahabat saya? Ya, karena saya merasa kriteria seorang sahabat yang baik belum saya miliki dan saya memanggil orang-orang terdekat saya dengan sebutan sahabat karena mereka telah membuktikan bahwa mereka pantas untuk menerima sapaan itu. Jadi, untuk siapapun yang membaca tulisan saya, berbicara atau diam sama pentingnya. Segala sesuatu menjadi tidak penting ketika kita melakukannya tidak pada tempat, atau situasi dan kondisi yang ideal. Satu pelajaran menarik bagi siapapun yang membaca tulisan saya, akan mudah sekali mengenali seorang introvert dari bahasanya karena banyak sekali penegasan kata “saya merasa”, dan “saya pikir”. Hal ini karena kebanyakan orang introvert dominan menggunakan otak kanan dibanding otak kiri (meski tidak semua seperti itu)dan lebih suka menganalisa sesuatu (ditunjukkan pada kata “saya pikir”). Dan sensivitas orang intovert kadang membuat orang di sekitarnya tidak nyaman.


0 comments:
Post a Comment